Sumber: www.google.com
Penerbangan dalam
negeri memiliki harga tiket yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga
tiket pesawat luar negeri, hal ini dirasakan oleh beberapa masyarakat yang sering
berpergian, seharusnya harga tiket pesawat dalam negeri bisa lebih terjangkau harganya agar masyarakat berminat untuk mengunjungi destinasi dan keliling Indonesia.Tidak hanya berdampak pada wisata yang ada di Indonesia tetapi berdampak juga pada sebagian mahasiswa yang merantau dari daerah ke Jakarta, salah satunya ialah mahasiswa Universitas Bunda Mulia yang bernama Rio yang sering menggunakan pesawat karena kebutuhan pulang-pergi ke kampung halamannya, kenaikan harga tiket pesawat yang dirasakannya cukup memberatkan.
"Menurut saya cukup memberatkan yaa, karena kenaikannya pun juga gak tanggung-tanggung gituloh, maksud saya gini kalau naiknya di high season saya gak masalah dengan harga segitu tapi ternyata di normal season pun harganya sudah mendekati high season , jadi maksud saya cukup memberatkan sih" Ujar Rio
Maskapai penerbangan sudah diperingatkan oleh Bapak presiden Jokowi Dodo untuk menurunkan harga pesawat yang melonjak tinggi dari biasanya, tetapi sampai saat ini belum ada satupun maskapai penerbangan yang menurunkan harga tiket pesawat. Beberapa waktu lalu beredar isu bahwa penerbangan Garuda Indonesia menurunkan harga tiket sampai 20% pada kenyataannya tidak ada harga tiket pesawat yang turun dan harga tetap melambung tinggi. Seharusnya ada kesadaran dari pihak maskapai itu sendiri untuk membuat harga tiket kembali menjadi harga normal.
Dalam beberapa waktu lalu ada sekumpulan mahasiwa Universitas Indonesia yang mengadakan unjuk rasa kenaikan harga tiket pesawat, karena merasakan hal yang seperti Rio banyak mahasiwa yang berasal dari luar daerah sehingga mereka harus berpergian menggunakan pesawat, mereka mengeluh akan naiknya harga pesawat sejak Januari 2019 pun harga tiket tidak kunjung turun. Hal ini yang membuat mereka berhak untuk unjuk rasa agar ada ketegasan dari pemerintah mengenai masalah ini dan jangan dibiarkan sehingga maskapai penerbangan tidak ada satupun yang merespon keluhan-keluhan dari masyarakat yang menggunakan pesawat.
Permintaan untuk menurunkan harga tiket pesawat terus menerus bertebaran lantaran PT Pertamina (Persero) telah mengecilkan harga avtur atau bahan bakar pesawat, dari sebelumnya Rp 8.210 per liter menjadi Rp 7.960 per liter. Saat ini, avtur menjadi komponen tertinggi dalam biaya operasional pihak maskapai penerbangan, bahkan mencapai 40 persen. Jadi seharusnya tidak ada alasan lagi untuk maskapai penerbangan agar segera menurunkan harga tiket jika dilihat dari sisi bahan bakar pertamina sudah menurunkan itu sudah menjadi pengaruh yang kuat untuk bisa mengembalikan harga tiket secara normal.
Seharusnya pemerintah bertindak tegas akan masalah ini karena berdampak buruk tidak hanya kepada masyarakat yang berpergian menggunakan pesawat tetapi berdampak juga pada pariwisata yang di Indonesia, karena harga tiket ke luar negeri tidak jauh beda dengan harga tiket dalam negeri sehingga masyarakat yang ingin mengunjungi wisata dengan menggunakan pesawat akan lebih memilih untuk wisata ke luar negeri, sangat tidak etis apabila wisata dalam negeri sepi pengunjung hanya karena masyarakat mengeluhkan harga tiket yang cenderung lebih mahal. Dampak itupun akan menjadi penurunan bagi pariwisata domestik.
Oleh karena itu, terlepas dari berbagai konflik mengenai harga tiket pesawat yang melonjak pemerintah harus berupaya menyelesaikan masalah ini dan menegur dengan tegas untuk pihak maskapai yang masih enggan menurunkan harga tiket. Selain itu, pihak maskapai pun harus peka terhadap situasi dan daya beli masyarakat Indonesia terhadap tiket pesawat.
"Menurut saya cukup memberatkan yaa, karena kenaikannya pun juga gak tanggung-tanggung gituloh, maksud saya gini kalau naiknya di high season saya gak masalah dengan harga segitu tapi ternyata di normal season pun harganya sudah mendekati high season , jadi maksud saya cukup memberatkan sih" Ujar Rio
Maskapai penerbangan sudah diperingatkan oleh Bapak presiden Jokowi Dodo untuk menurunkan harga pesawat yang melonjak tinggi dari biasanya, tetapi sampai saat ini belum ada satupun maskapai penerbangan yang menurunkan harga tiket pesawat. Beberapa waktu lalu beredar isu bahwa penerbangan Garuda Indonesia menurunkan harga tiket sampai 20% pada kenyataannya tidak ada harga tiket pesawat yang turun dan harga tetap melambung tinggi. Seharusnya ada kesadaran dari pihak maskapai itu sendiri untuk membuat harga tiket kembali menjadi harga normal.
Dalam beberapa waktu lalu ada sekumpulan mahasiwa Universitas Indonesia yang mengadakan unjuk rasa kenaikan harga tiket pesawat, karena merasakan hal yang seperti Rio banyak mahasiwa yang berasal dari luar daerah sehingga mereka harus berpergian menggunakan pesawat, mereka mengeluh akan naiknya harga pesawat sejak Januari 2019 pun harga tiket tidak kunjung turun. Hal ini yang membuat mereka berhak untuk unjuk rasa agar ada ketegasan dari pemerintah mengenai masalah ini dan jangan dibiarkan sehingga maskapai penerbangan tidak ada satupun yang merespon keluhan-keluhan dari masyarakat yang menggunakan pesawat.
Permintaan untuk menurunkan harga tiket pesawat terus menerus bertebaran lantaran PT Pertamina (Persero) telah mengecilkan harga avtur atau bahan bakar pesawat, dari sebelumnya Rp 8.210 per liter menjadi Rp 7.960 per liter. Saat ini, avtur menjadi komponen tertinggi dalam biaya operasional pihak maskapai penerbangan, bahkan mencapai 40 persen. Jadi seharusnya tidak ada alasan lagi untuk maskapai penerbangan agar segera menurunkan harga tiket jika dilihat dari sisi bahan bakar pertamina sudah menurunkan itu sudah menjadi pengaruh yang kuat untuk bisa mengembalikan harga tiket secara normal.
Seharusnya pemerintah bertindak tegas akan masalah ini karena berdampak buruk tidak hanya kepada masyarakat yang berpergian menggunakan pesawat tetapi berdampak juga pada pariwisata yang di Indonesia, karena harga tiket ke luar negeri tidak jauh beda dengan harga tiket dalam negeri sehingga masyarakat yang ingin mengunjungi wisata dengan menggunakan pesawat akan lebih memilih untuk wisata ke luar negeri, sangat tidak etis apabila wisata dalam negeri sepi pengunjung hanya karena masyarakat mengeluhkan harga tiket yang cenderung lebih mahal. Dampak itupun akan menjadi penurunan bagi pariwisata domestik.
Oleh karena itu, terlepas dari berbagai konflik mengenai harga tiket pesawat yang melonjak pemerintah harus berupaya menyelesaikan masalah ini dan menegur dengan tegas untuk pihak maskapai yang masih enggan menurunkan harga tiket. Selain itu, pihak maskapai pun harus peka terhadap situasi dan daya beli masyarakat Indonesia terhadap tiket pesawat.

Comments
Post a Comment